Tanggul Jebol, Banjir Kepung Semarang Barat Tengah Malam: Lansia Digendong, Rumah Terendam Hingga 1 Meter
Banjir besar kembali melanda Semarang Barat usai tanggul Sungai Plumbon jebol. Ratusan rumah terendam, lansia dan balita dievakuasi, Jalur Pantura lumpuh semalaman.

SEMARANGNETWORK.COM - Hujan deras yang mengguyur Kota Semarang kembali membawa petaka. Wilayah barat Semarang dilanda banjir besar, Kamis (15/1/2026) malam, setelah tanggul Sungai Plumbon jebol di sejumlah titik. Air datang cepat, merendam rumah warga, dan memaksa lansia serta balita dievakuasi di tengah gelap malam.

Tiga kelurahan terdampak cukup parah, yakni Wonosari (Ngaliyan) serta Mangunharjo dan Mangkang Kulon (Tugu). Hingga larut malam, ratusan rumah masih terendam air setinggi lutut hingga pinggang orang dewasa.

Di Kelurahan Wonosari, hampir seluruh RT di RW 2 terendam banjir akibat limpasan Sungai Plumbon. Air juga meluas ke RW 3 dan RW 7 Jalan Kuda. Warga yang rumahnya berada di dataran rendah terpaksa mengungsi ke rumah kerabat yang lebih tinggi.

Situasi semakin mencekam saat air naik cepat. Sebanyak 10 orang lansia dan balita harus dievakuasi, digendong warga menuju tempat aman.

“Air naik cepat, warga masih siaga karena debit sungai belum turun,” ujar Lurah Wonosari, Dimas Sancoyo.

Di Perumnas Mangkang, ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar satu meter, merendam rumah dan memutus aktivitas warga. Di Kelurahan Mangunharjo, beberapa titik tanggul Sungai Plumbon kembali jebol, membuat air masuk ke permukiman sejak petang.

“Sekitar jam delapan malam air mulai masuk rumah. Karena dekat sungai, banjir kali ini cukup parah,” kata Novianti, warga Mangunharjo.
Ia menyebut air di dalam rumah mencapai 50 sentimeter, sementara di luar rumah hampir setinggi pinggang.

Warga mengeluhkan banjir yang terus berulang.
“Harapannya sungai dinormalisasi. Sudah sering kebanjiran,” keluhnya.

Lurah Mangunharjo, Siti Komariyah, menyebut banjir terparah terjadi di RW 4. Wilayah tersebut sempat terisolasi karena letaknya persis di bibir sungai.

“Desember lalu dua kali banjir, Januari ini terulang lagi. Ada beberapa titik tanggul yang jebol,” ungkapnya.

Tak hanya permukiman, banjir juga melumpuhkan Jalur Pantura. Genangan terparah terjadi di depan Universitas Terbuka, dengan ketinggian air mencapai satu ban sepeda motor. Kendaraan kecil terpaksa putar balik, sementara sejumlah motor mogok setelah nekat menerobos banjir.

Kemacetan panjang tak terhindarkan. Ekor antrean kendaraan bahkan mencapai Traffic Light Kawasan Industri Wijaya Kusuma, sekitar empat kilometer dari lokasi banjir.

Sekitar pukul 00.30 WIB, genangan di Jalur Pantura mulai surut. Arus lalu lintas berangsur normal, meski sisa kemacetan masih terjadi. Air di permukiman warga baru benar-benar surut sekitar pukul 02.00 WIB, Jumat (16/1/2026).

Saat pagi menjelang, warga mulai membersihkan lumpur tebal yang mengendap di dalam rumah. Di tengah kelelahan, mereka masih dihantui kecemasan — banjir bisa kembali datang kapan saja jika hujan turun dan sungai kembali meluap.



Anda mungkin juga menyukai