SEMARANG – PT Laksana Bus Manufaktur kembali menegaskan komitmennya terhadap keselamatan transportasi darat, khususnya pada sektor bus pariwisata. Komitmen tersebut diwujudkan melalui dukungan terhadap pembekalan keselamatan bagi sumber daya manusia yang terlibat langsung dalam perjalanan wisata.
Bersama Duta Cemerlang Motor dan PO Pesona Bus, PT Laksana menggelar kegiatan bertajuk “Tour Leader LEVEL UP: From Guide to Guardian” di Training Center Duta Cemerlang, Selasa (13/1/2026).
Kegiatan ini memberikan edukasi keselamatan kepada tour leader dan tour guide yang berperan sebagai garda terdepan dalam melindungi penumpang bus wisata.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh pemilik PO Pesona Bus, Muhammad Abdul Wahid, yang juga dikenal sebagai konten kreator otomotif asal Semarang melalui kanal YouTube Mas Wahid. Ia mengaku prihatin dengan maraknya kecelakaan bus pariwisata dalam beberapa waktu terakhir, sehingga edukasi keselamatan dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
“Kami membekali tour leader dan tour guide dengan edukasi keselamatan penumpang karena merekalah ujung tombak keselamatan di jalan saat membawa tamu berwisata,” kata Wahid.
Pelatihan ini diikuti sekitar 40 peserta yang terdiri dari tour guide, tour leader bus wisata, pengemudi, serta kru bus. Salah satu fokus utama pembekalan adalah membiasakan penggunaan sabuk pengaman (safety belt) bagi penumpang selama perjalanan.
Menurut Wahid, penggunaan safety belt sangat krusial, terutama saat melintas di jalan tol dengan kecepatan tinggi maupun di jalur turunan yang berisiko.
“Kita harus membiasakan dan mengedukasi penumpang untuk selalu memakai safety belt. Ini langkah sederhana, tetapi sangat penting untuk mengurangi risiko cedera,” ujarnya.
Ia mengakui, penggunaan sabuk pengaman di bus pariwisata masih kerap dianggap sepele oleh sebagian penumpang. Meski demikian, edukasi keselamatan harus terus dilakukan secara konsisten.
“Edukasi soal safety belt sudah saya lakukan sejak 2022, ke sekolah-sekolah dasar,” imbuhnya.
Mas Wahid menambahkan, banyak kecelakaan bus yang menimbulkan korban jiwa disebabkan penumpang tidak menggunakan sabuk pengaman. Padahal, perangkat tersebut berfungsi menahan tubuh saat terjadi benturan atau pengereman mendadak.
“Tour guide harus aktif memastikan safety belt terpasang, seperti pramugari di pesawat. Terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar,” jelasnya.
Sementara itu, Sales Supervisor PT Laksana Bus Manufaktur, Lazuardi, menegaskan bahwa dari sisi manufaktur, Laksana telah menerapkan standar keselamatan ketat pada setiap unit bus yang diproduksi. Sejumlah uji keselamatan berkelanjutan telah dilakukan sejak 2018 hingga 2022.
“Seluruh rangkaian pengujian keselamatan telah dilalui dan dinyatakan lulus uji kelayakan. Mulai dari uji ketahanan saat bus terguling, pengujian kekuatan kursi agar tidak terlepas dari lantai, hingga uji kekuatan bodi terhadap benturan keras,” ujar Lazuardi.
Ia menambahkan, sertifikasi dan pengujian rutin menjadi syarat penting sebelum unit bus dikirimkan kepada konsumen, termasuk untuk kebutuhan pasar ekspor.
“Sertifikasi ini memastikan bus memenuhi standar keselamatan, baik untuk pasar domestik maupun internasional,” pungkasnya.
